Pada abad ke-18, kota Surabaya merupakan daerah yang sudah cukup ramai. Adalah sungai Kalimas yang saat itu dilalui puluhan dan bahkan ratusan kapal dan perahu. Sungai tersebut merupakan jalur utama untuk mengangkut berbagai barang dan aneka hasil bumi. Selain lebar (20-35 meter) dengan aliran air yang tenang, dipinggir sungai berdiri ratusan gudang dan pabrik. Pabrik-pabrik tersebut konon lebih banyak dari pada yang ada di Batavia sekalipun. Di sekitar sungai juga terdapat pelabuhan dan berdedekatan dengan Jembatan Merah.

Terdapat dermaga yang dimiliki oleh masing-masing pabrik untuk memudahkan mengangkut dan menurunkan barang. Sehingga pada masa itu pertumbuhan ekonomi dan pemerintahan serta tata kota Surabaya terpusat di sepanjang sungai kalimas (1920). Peran perkembangan ekonomi pun bertahan hingga pertengahan 1950-an.

Keanggunan Sungai Kalimas dituliskan oleh Gustaaf Willem Baron Van Imhoff dalam memoar perjalanannya pada bulan April 1746. Bunyinya “Saya melihat ketertiban dan keindahaan Kerajaan Surabaya. Hari pertama saya gunakan berkeliling di jalanan sekitar Keputran dan berperahu menyusuri Kalimas yang membelah kerajaan hingga di hilir.” Ya, Gubernur Jendral Hindia belanda (1743-1750) ini menyusuri Kalimas sehari setibanya di Surabaya.

Sungai Kalimas juga dikenal dengan istilah Westerkade Kalimas (sebelah barat Kalimas) dan Osterkade Kalimas (sebelah timur Kalimas). Namun masyarakat setempat menyebutnya dengan daerah “kulon Kalimas” dan “wetan kali”. Penamaan tersebut berdasar atas letak wilayah, dimana barat sungai menjadi pusat pemerintah kolonial, sementara timur sungai menjadi kawasan perdagangan. Wilayah timur membentang dari Kembang Jepun, Cantikan, Kapasan, hingga Ampel. Kalimas melintasi delapan kecamatan (dari 31 kecamatan) dan 15 kelurahan. panjangnya mencapai 12 kilometer, mulai dari Wonokromo sampai Semampir.

Sungai Kalimas juga tak lepas dari penamaan Surabaya itu sendiri. Terdapat beberapa versi yang berhubungan dengan masalah penamaan. Versi pertama dan paling terkenal, nama Surabaya berasal dari dua sosok mitologis, ikan sura dan buaya. Keduanya bertarung untuk memperebutkan siapa yang pantas menjadi penguasa sungai Kalimas. Dari situ kemudian daerah ini disebut dengan nama Surabaya.

Versi kedua terkait dengan sosok Adipati Jayenggrono yang menjadi pemimpin di daerah tersebut. Kedudukan Adipati yang menguasai ilmu buaya makin lama makin kuat dan mengancam kekuasaan Majaphit. Hingga Majapahit mengutus Sawunggaling yang memiliki kanuragan ilmu Sura untuk mengalahkan Jayenggrono. Terjadilah pertarungan adu kesaktian antara keduanya. Perang tersebut berlangsung selama tujuh hari tujuh malam di pinggir Kalimas dan berakhir tragis dengan kematian keduanya.

Versi lain menyebutkan dalam Prasasti Trowulan I (1358) terdapat sebuah desa bernama Churabaya terletak di pinggir Sungai Brantas yang merupakan induk dari Kalimas.

Saat ini Kalimas menjadi salah satu tujuan wisata yang menarik. Wisatawan yang ingin melihat peradaban pada masa lalu bisa menyusurinya dengan naik kapal atau perahu. Banyak obyek yang bisa dinikmati. Mulai dari pintu air jagir di Wonokromo, jembatan BAT di Ngagel, serta Pasar Bunga Kayoon. Pasar ini merupakan pasar bunga terbesar di Surabaya.

Pemerintah Surabaya saat ini lebih serius merevitalisasi sungai Kalimas menjadi tempat wisata. Direncanakan dari belakang Gedung Grahadi sampai Jalan Kayoon akan dilengkapi restoran air serta pasar lukisan. Dengan ini diharapkan kunjungan wisata akan lebih bervariasi dan para pelancong serta warga sekitar lebih mengenal sejarah kota Surabaya.

Kunjungan wisatawan akan lebih lengkap dengan memilih penginapan yang tepat seperti Novotel Surabaya Hotel, Hotel Utami, atau Hotel Tilamas.

Berikutnya Monumen kapal Selam, Jembatan taman Prestasi yang berdekatan dengan Taman Prestasi. Kemudian jembatan Peneleh yang menjadi terkenal sejak zaman penjajahan.

How to Get There:

Untuk dapat mencapai kawasan Sungai Kalimas, dapat langsung menuju Jembatan Merah. Letak jembatan berada di Surabaya Utara, tepatnya menghubungkan antara Jalan Rajawali dan Jalan Kembang Jepun. Dari Terminal Bungurasih wisatawan dapat naik bus kota yang langsung menuju Jembatan Merah.

Peta Lokasi :

View Large Map

Komitmen kami untuk memberikan informasi, tips, dan panduan wisata untuk Anda sekalian, Namun demikian pemeliharaan website ini tidaklah murah, maka apabila Anda memesan hotel silahkan klik link hotel yang ada di halaman ini untuk membantu kami terus dapat memberikan informasi serta panduan wisata yang lebih menarik lagi. Dan juga sarankan kami di twitter dan facebook.

Incoming search terms:

  • sejarah sungai kalimas surabaya
  • sungai kalimas

Mau Liburan Murah? Pastikan Hubungi Kami!
Tour Murah Panduan Wisata. Telp: +62.85.101.171.131. Pin BB: 5BF4C2B4

Tags: , , , , , , , , , , , , , , ,