Jalan Tunjungan sudah dikenal sejak dulu. Sejak masa Hindia Belanda, jalan ini dirancang menjadi kawasan bisnis. Sebab itu banyak pertokoan, kantor, atau hotel yang dibangun di sepanjang jalan ini dan sebagian masih tersisa hingga saat ini.

Jalan Tunjungan, merupakan jalan penghubung yang strategis dan kawasan segitiga emas dari Jalan Embong Malang dan Jalan Blauran. Selain strategi, jalan ini merupakan terusan dari jalan-jalan penting di Surabaya. Seperti, dari arah tenggara, Jalan Tunjungan bersambung dengan Jalan Gubernur Suryo. Sebelah selatan menyambung dengan Jalan Embong Malang. Arah timur Jalan Tunjungan yang terhubung dengan Jalan Genteng Besar dan Jalan Genteng Kali. Ke utara Jalan Gemblongan, arah barat bersambung ke Jalan Praban, dan apabila diteruskan akan sampai ke Blauran.

Wisatawan dapat menikmati suasana kota ini dengan berjalan kaki, sebab trotoar di jalan tunjungan ini cukup lebar. Di sepanjang jalan terdapat gedung-gedung bersejarah di sepanjang ruas jalan Tunjungan. Seperti Gedung Siola, merupakan bangunan yang berdiri sejak 1877. Adalah orang Inggris bernama Robert Laidlaw yang mendirikan bangunan ini dan menjadikannya sebagai pusat kulakan dan grosir.

Siola merupakan grosir terlengkap di bawah payung Whiteaway Laidlaw & Co, sebuah merk dagang grosir terkenal di dunia waktu itu. Bangunan ini sejak awal tahun 1900-an sudah menjadi pusat pertokoan yang terbesar di Hindia Belanda. Di masa berikutnya, tempat ini berganti diisi oleh orang Jepang dan berganti nama menjadi Toko Chiyoda yang banyak menjual tas koper dan sepatu. Saat pertempuran 10 November 1945, Gedung ini dijadikan tempat para pejuang untuk menyusun strategi melawan pasukan Inggris. Pertempuran hebat tak terelakkan, sampai kemudian Inggris mem-bom gedung ini yang meluluhlantakkan bagian depan gedung.

Baru pada tahun 1960-an, gedung ini digarap oleh para pebisnis yang kemudian mendirikan gedung ritel bernama Siola. Namun pada 1998, pusat ritel ini ditutup karena kalah saing dengan pusat perbelanjaan lainnya. Kemudian, gedung ini diisi oleh Ramayana Department Store dan kini menjadi Tunjungan Center.

Pada tahun 1930-an, terdapat salah satu toko yang bernama Nam. Terletak di persimpangan antara Jalan Tunjungan dan Jalan Embong Malang. Toko Nam kemudian pindah. Baru pada 1938 dibangun gedung baru bernama Toko Kwang. Kini ditempat itu dijadikan Monumen Pers Perjuangan Surabaya.

Di jalan Tunjungan ini terdapat pula sebuah hotel dengan nama Hotel Majapahit . Hotel ini didirikan orang Armenia bernama Lucas Martin Sarkies, sedangkan untuk arsitek dia mempercayakan James Afprey asal Inggris. Lucas Martin juga memiliki jaringan hotel seperti the Raffles di Singapura, the Strand di Myanmar dan the Eastern and Oriental di Penang.

Hotel yang awalnya bernama Oranje pada masa kolonial tersebut, menjadi saksi sejarah rentetan meletusnya pertempuran 10 November 1945. Awal mula perseteruan adalah pengibaran bendera Belanda di Hotel Yamato.

Awalnya, Sudirman meminta Belanda untuk menurunkan bendera yang berkibar di Hotel yang juga bernama Yamato tersebut. Namun, peringatan tidak digubris oleh pihak Belanda. Bahkan perundingan pun tidak mencapai kesepakatan. Maka, pada 18 September 1945 terjadilah pemberontakan. Arek-arek Suroboyo yang sudah mengepung Hotel Yamato sejak pagi, serta merta merobek kain berwarna biru pada bendera Belanda. Sehingga bendera tersebut menjadi merah-putih seperti bendera Indonesia.

Selain toko dan hotel, di Jalan Tunjungan ini juga terdapat restoran Hellendorn. Hellendor menjadi salah satu tempat favorit bagi kalangan bangsawan dan saudagar kaya menikmati makan malam yang mewah.

Saat ini Pemerintah mulai menghidupkan pesona Jalan Tunjungan dengan pemeliharaan cagar budaya dan berbagai acara. Hal ini dilakukan mengingat arti pentingnya nilai sejarah dan mengenalkan kota ini sebagai Kota Pahlawan bagi generasi muda. Sering diadakannya Acara di jalan ini, menunjukkan keseriusan pemerintah terhadap peningkatan disektor pariwisata. Salah satu kegiatan yang rutin diadakan adalah festival dan pawai untuk memperingati Hut Kota Surabaya. Pada hari ulang tahun Kota Surabaya tersebut, biasanya diadakan pawai yang melewati jalan Tunjungan ini. Selain itu juga diadakan Festival Rujak Uleg untuk memeriahkan acara tersebut. Festival ini diadakan tak jauh dari jalan tunjungan, yaitu jalan kembang jepun.

Pada hari minggu pagi, Jalan tunjungan akan ditutup bagi pengendara sepeda motor ataupun mobil. Karena pada hari minggu banyak warga masyarakat Surabaya yang berolahraga. Jogging, sambil menikmati kebersamaan bersama keluarga atau sahabat. Berderet penjual makanan melimpah di sepanjang jalan bersejarah tersebut.

Wisatawan yang berkunjung ke Surabaya tentu akan mendapat berbagi kesempatan untuk mengunjungi banyak tempat dan festival. Kota pahlawan tersebut juga menawarkan berbagai penginapan seperti, JW Marriott Surabaya Hotel, Hotel Tunjungan serta Hotel Bumi Surabaya. Bagi wisatawan yang ingin lebih lama menikmati suasana di Surabaya berbelanja di Tunjungan Plaza bisa menjadi salah satu pilihan.

How to Get There :

Untuk menuju Jalan Tunjungan dari dari Terminal bus Bungurasih, wisatawan dapat menggunakan bus kota jurusan Jembatan Merah atau jurusan Oso wilangun yang melewati jalan Darmo. Rute balik kedua bus kota ini akan melewati Jalan Tunjungan.

Peta Lokasi :

View Large Map

Komitmen kami untuk memberikan informasi, tips, dan panduan wisata untuk Anda sekalian, Namun demikian pemeliharaan website ini tidaklah murah, maka apabila Anda memesan hotel silahkan klik link hotel yang ada di halaman ini untuk membantu kami terus dapat memberikan informasi serta panduan wisata yang lebih menarik lagi. Dan juga sarankan kami di twitter dan facebook.

Incoming search terms:

  • jalan tunjungan surabaya
  • sejarah jalan tunjungan surabaya
  • jalan tunjungan
  • Sejarah jalan tunjungan

Mau Liburan Murah? Pastikan Hubungi Kami!
Tour Murah Panduan Wisata. Telp: +62.85.101.171.131. Pin BB: 5BF4C2B4

Tags: , , , , , , , , , ,