Tak selamanya berkunjung ke museum itu membosankan. Justru sebaliknya, kita bisa mendapat banyak pengetahuan tentang sejarah bangsa. Termasuk  menelusuri sejarah dan asal-usul suku Tengger yang tentunya sudah tak asing di telinga Anda. Ya, suku yang mendiami lereng Gunung Bromo ini memang unik dan menjadi salah satu tujuan wisata populer di Jawa Timur. Menariknya, suku ini diyakini berasal dari Malang. Terbukti dari adanya prasasti -yang mengisahkan masyarakat Tengger- di Museum Mpu Purwa Malang. Penasaran?

foto: www.mpupurwamalang.blogspot.com

foto: www.mpupurwamalang.blogspot.com

Kisah suku Tengger diyakini bermula sejak jaman pemerintahan Majapahit. Bukti yang menegaskan hal itu terdapat pada prasasti era Mpu Sindok tahun 944 Masehi yakni Prasasti Muncang. Prasasti yang memiliki panjang 102 cm, lebar 22 cm, dan tinggi 142,5 cm ini ditemukan di Dukuh Blandit, Desa Wonorejo, Singosari, Kabupaten Malang. Prasasti batu berbentuk segilima tersebut menceritakan keberadaan masyarakat Tengger.

Isi Prasasti Muncang menyebutkan penetapan sebidang tanah di selatan pasar Desa Muncang sebagai tanah perdikan. Hasil bumi tanah perdikan ini digunakan untuk membangun Prasada Kabhaktyan Siddhayoga. Yaitu bangunan suci sebagai tempat peribadatan harian bagi Bhathara Sang Hyang Swayambhwa yang bersemayam di Walandit. Desa Walandit sendiri sekarang dikenal dengan Dukuh Blandit yang terletak di Desa Wonorejo, Singosari, Malang. Posisinya persis di lereng barat Gunung Bromo.

foto: www.hurahura.wordpress.com

foto: www.hurahura.wordpress.com

Prasasti Muncang pernah dibaca dan dikaji oleh orang-orang luar negeri menggunakan kertas khusus. Sedangkan orang Indonesia masih membaca prasasti ini dengan menggunakan bantuan tepung. Oya, kisah masyarakat Tengger tidak bisa langsung ditemukan dalam Prasasti Muncang tanpa bantuan beberapa prasasti lain. Beberapa prasasti yang mendukung Prasasti Muncang antara lain Prasasti Lingga Sutan (tahun 929 Masehi) yang isinya menetapkan Desa Lingga Sutan sebagai wilayah Rakriyan Hujung dan hasil pertanian di sana dipersembahkan kepada Bhathara I- Walandit. Pemujaannya dilakukan setahun sekali.

Dari dua prasasti tersebut terlihat mulai ada kesamaan, yaitu mengenai daerah Walandit atau I-Walandit. Walandit kini menjadi Dukuh Blandit. Informasi mengenai suku Tengger semakin jelas terlihat pada Prasasti Pananjakan yang ditemukan pada 1880 di daerah Penanjakan, Kabupaten Pasuruan. Prasasti berangka tahun 1405 itu menyebutkan larangan untuk menarik pajak pada bulan titi loman atau akhir bulan Asada di Walandit.

foto: www.hurahura.wordpress.com

foto: www.hurahura.wordpress.com

Dari lokasi penemuan prasasti ini, para arkeolog yakin cerita dan asal masyarakat Tengger-Bromo justru lahir dari lereng barat-selatan Gunung Bromo sekarang, yaitu wilayah Kabupaten Malang. Prasasti-prasasti bersejarah ini masih terawat dengan baik di Museum Mpu Purwa. Jadi, jika Anda ingin menyaksikan berbagai barang peninggalan dan membuktikan kebenaran cerita ini, Anda bisa datang ke Museum Mpu Purwa Malang.

Di samping itu, Museum Mpu Purwa juga menyimpan berbagai prasasti dan arca menarik lainnya. Seperti Arca Dewa Siwa, Resi Guru, Arca Resi Agastya, Wisnu, Brahma, Trimurti, Dwarapala, Nandiswara, Mahakala, Durgamahisasuramardini, Sangkara, Lembu Nandi, Dwarajala (saluran air), Laksmi (Dewi Kesuburan), sejumlah umpak (batu penyanggah tiang), struktur batu merah, ornamen kuncup teratai, pipisan, miniatur puncak candi, simbar (hiasan pelengkap pada struktur bangunan candi), dan berbagai arca tokoh dewa. Ada juga peninggalan arca dari jaman megalitik muda (jaman Majapahit akhir) berupa arca-arca tokoh leluhur.

foto: www.travel.detik.com

foto: www.travel.detik.com

Menariknya, berbagai koleksi yang ada di Museum Mpu Purwa termasuk unik dan langka. Jika berkunjung ke museum ini, para wisatawan dijamin akan puas dan mengetahui sejarah panjang masa lampau. Museum Mpu Purwa Malang buka setiap hari Senin-Sabtu mulai jam 8.00-16.00 WIB dengan tiket masuk gratis. Museum yang terletak di Jl. Soekarno-Hatta No. 210, Perum Griyashanta, Kelurahan Mojolangu, Kecamatan Lowokwaru, Malang ini masih sulit dijangkau oleh kendaraan umum. Jadi Anda harus menggunakan kendaraan pribadi jika ingin berkunjung ke sini. Dari kota Malang, arahkan kendaraan Anda menuju Kecamatan Lowokwaru. Setelah sampai di daerah ini Anda dapat langsung menuju komplek Perum Griyashanta. Bisa juga bertanya pada penduduk sekitar mengenai lokasi museum Mpu Purwa.

Sempatkan pula untuk mengunjungi tempat bersejarah lainnya seperti Museum Brawijaya, Museum Malang Tempo Doeloe, Museum Bentoel, Museum Zoologi Frater Vianney, Candi Kidal, dan Candi Singosari. Selama di kota Malang, Anda dapat beristirahat di Mutiara Hotel, Santika Premiere Malang Hotel, Gajahmada Graha Hotel, atau Hotel Trio Indah.

Peta lokasi Museum Mpu Purwa. View larger map

Informasi yang tertera dalam artikel di atas sesuai dengan kondisi pada 19 Mei 2014.

Komitmen kami untuk memberikan informasi, tips, dan panduan wisata untuk Anda sekalian. Namun demikian, pemeliharaan website ini tidaklah murah. Apabila Anda memesan hotel, silahkan klik link hotel yang ada di halaman ini untuk membantu kami terus dapat memberikan informasi serta panduan wisata yang lebih menarik lagi. Dan juga sarankan kami di twitter dan facebook.

Incoming search terms:

  • candi walandit
  • Prasasti Linggasutan
  • prasasti mpu sindok
  • prasasti peninggalan mpu darmaja
  • prasasti yang betkaitan dengan dengan desa walandit
  • sejarah desa blandit

Mau Liburan Murah? Pastikan Hubungi Kami!
Tour Murah Panduan Wisata. Telp: +62.85.101.171.131. Pin BB: 5BF4C2B4

Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,